You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Bengkel
Logo Desa Bengkel
Desa Bengkel

Kec. Kediri, Kab. Tabanan, Provinsi Bali

INGAT PROTOKOL KESEHATAN: Rajin Mencuci Tangan, Gunakanlah Masker dan Jaga Jarak Saat Berinteraksi

Tri Hita Karana = Tri Harmoni?

Pemdes 02 Maret 2021 Dibaca 397 Kali
Tri Hita Karana = Tri Harmoni?

Oleh Putu Wawan

Alam, manusia dan Tuhan merupakan rangkaian jejaring yang tak bisa dipisahkan. Semenjak manusia dilahirkan ia merangkai hubungan sekaligus akrab dengan alam, sesamanya dan Tuhan. Ketiga rangkaian jejaring ini kemudian diberi nama dengan Tri Hita Karana, yaitu suatu konsep yang melukiskan dunia manusia sebagai rangkaian kehidupan nan megah. Jejaring kehidupan ini diciptakan bertujuan untuk membebaskan dan menyelamatkan hidup, jejaring yang saling ketergantungan yang menyelamatkan dalam bingkai keselarasan. Semakin adil dan peduli terhadap alam, alam akan memberi kemakmuran. Semakin bijak terhadap sesama, kehidupan semakin damai, hidup pun semakin sejahtera. Semakin bhakti kepada Tuhan, menjadikan batin menjadi tentram dan hidup berbahagia.

Tri Hita Karana merupakan kearifan lokal Bali, yang dicetuskan pada 11 Nopember 1966 di Perguruan Dwijendra saat konferensi daerah pertama Badan Perjuangan Umat Hindu Bali. Konsep ini lebih memfokuskan pada kebaikan dan keindahan dibandingkan dengan kebenaran pada pergulatan akal – pikiran. Sebuah teks menyatakan, konsep ini digagas konon pada masa Mpu Kuturan yang memberi anjuran kepada Raja Bali saat itu, untuk menata segenap lini kehidupan. Mpu Kuturan menyarankan untuk selalu menata kehidupan berpedoman pada pengetahuan “Manut linggih Sang Hyang Aji”, dalam hal ini menjalankan tata–titi kehidupan sebagai orang Bali, harus berpedoman pada teks-teks suci.

Tata–titi kini kental kita lihat telah mengalami degradasi yang luar biasa parah, sehingga menimbulkan berbagai macam permasalahan dalam kehidupan. Dampaknya muncul berbagai wabah penyakit, musim yang tak tepat perhitungan waktunya, berbagai bencana alam di berbagai belahan negeri dan banyak lagi. Hal ini tiada lain disebabkan tidak adanya keharmonisan, seperti manusia sudah tidak adil dengan alam, semena-mena dengan  sesama, pun rasa bhakti terhadap Tuhan luntur. Tri Harmoni ini tak begitu tampak di zaman digital saat ini. Manusia begitu rakus, mereka secara kuantitas tampak begitu religius, tangannya seolah terikat oleh Tuhan, namun kaki satunya sibuk menendangi sesama dan kaki satunya pun sibuk menendang alam.

Pandemi Covid-19 misalnya, wabah yang tak kunjung usai saat ini, entah kapan akan berakhir. Faktanya masih banyak saudara kita yang tertular virus mematikan ini, dan anehnya orang yang terpapar virus ini kerap tanpa gejala, dan naas tiba-tiba sudah tak tertolong dan mati. Mirib cerita yang dituturkan dalam kisah Calonarang di negeri Daha, kala itu penyakit mematikan begitu ganas menjangkiti masyarakat, dan tak sedikit yang menjadi korban. Di duga masyarakat daha kala itu tak adil dengan salah satu anggota masyarakatnya. Seorang janda beranak satu yang bernama Nateng Dirah diperlakukan semena-mena, sehingga ia marah dan menebar teror kematian.

Searas dengan masyarakat sekarang yang begitu mudah menghujat sesama, mengujar kebencian. Alam pun mungkin murka, sehingga timbulah berbagai masalah, seperti wabah Covid-19 salah satunya. Sehingga dimusim pandemi ini tak salah lantas pemerintah memberlakukan protokol kesehatan, menganjurkan untuk selalu memakai masker, sesering mungkin cuci tangan dan selalu jaga jarak dengan orang lain. Cara-cara seperti ini merupakan sindiran telak bagi kita semua, kemana-mana memakai masker maknanya agar kita selalu mengontrol ucapan agar tidak mudah mengeluarkan kata-kata kotor, tidak mudah menghujat, dan berbicara seperlunya. Mencuci tangan lebih kepada anjuran selalu menyucikan diri, tangan ini daki karena terlalu sering menjamah alam dan lupa merawatnya. Menjaga jarak dengan sesama, pesannya untuk memberikan ruang instrospeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini.

Solusinya, kita harus kembali pada kearifan tetua dulu dengan menjalankan tata-titi yang telah disuratkan oleh para leluhur. Kembali sekuat mungkin mengimplementasikan tiga jalan ‘penyebab’ kemakmuran, kedamaian dan kebahagiaan hidup, dengan selalu mengadakan keharmonisan dengan ketiga unsurnya, jika hal ini diabaikan tak pelak manusia akan celaka. Kepedihan hidup tak akan terhindarkan, berbagai krisis akan muncul, lalu manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Apalagi yang kita harapkan ketika alam sudah tak bersahabat, para manusia sudah tak bisa kerjasama pun Tuhan sudah menjauh. Kehidupan yang tak lagi indah, tak ada lagi keselamatan hidup pun tak ada dharma di dalamnya.

Kerusakan tata-titi ini harus segera dibenahi dengan penuh kesadaran, walaupun banyak keluhan yang mengemuka tentang rusaknya ‘titi’ (jembatan) kehidupan. Lebih baik terlambat tinimbang tidak sama sekali. Dimulai berdamai dengan diri sendiri, mengharmoniskan pikiran, perasaan dan kehendak dengan cara menenangkan diri di tengah berbagai krisis. Konon obat Covid-19 yang ampuh itu adalah memunculkan kekebalan dari dalam diri, dengan selalu mengupayakan dan menjaga harmonisasi pikiran, perasaan dan kehendak tadi. Mengupayakan pikiran yang selaras, seimbang, perasaan yang damai dan bahagia, kehendak yang tepat sasaran dan mengutamakan prioritas. Jika hal ini bisa kita upayakan, bisa dipastikan kita selamat dari wabah Covid-19 tentunya dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Disamping itu, kita senantiasa harus merawat alam mengembalikan kemurnian eksistensi alam yang di sebut Panca Mahabutha, lima unsur sebagai penyusun alam semesta. Tetua kita mengajarkan untuk tetap melaksanakan upacara Butha Yadnya, seperti tersurat dalam Agastya Parwa menyebutkan “Bhuta yadnya ngarania tawur muang kapujan ring tuwuh, matangnyan prihen tikang bhuta hita, awya tan maasih ring sarwa prani…”, jika diartikan, Bhuta yadnya namanya bertujuan mengembalikan unsur-unsur alam dengan menghormati tumbuh-tumbuhan, oleh karena itu usahakanlah kesejahteraan alam itu dan harus menaruh belas kasih kepada semua makhluk hidup.

Jadi saat ini manusia sebaiknya berkontemplasi dimasa pandemi, sudah berapa besarkah memiliki andil untuk merawat semesta, berdamai dengan sesama dan bhakti kepada Tuhan. Memasuki Dwapara Yuga dicatat kerusakan moral makin menjadi-jadi disebabkan manusia tidak lagi mempedulikan ajaran Sad Pertiwi Dharyante, enam prilaku untuk mendukung tegaknya dharma di Bumi. Yaitu Satya (kebenaran), Rta (hukum Alam), Tapa (pengendalian diri), Diksa (kesucian), Brahma (doa), Yadnya (keiklasan berkorban demi tegaknya dharma). Untuk itu kita harus kembali kepada ajaran para leluhur yang adi luhung untuk selalu mengupayakan keharmonisan hubungan pada ketiga aspek, baik manusia dengan alam, manusia dengan sesama, dan manusia dengan Tuhan, Tri Harmoni ini harus senantiasa kita jaga dalam segenap nafas kehidupan …….. Rahayu 

 

 * Artikel ini telah dimuat di majalah Wartam

 

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBD 2026 Pelaksanaan

APBD 2026 Pendapatan

APBD 2026 Pembelanjaan