Dikisahkan oleh Mpu Tantular, tidak sedikit ada pandita palsu yang menyamar layaknya pandita mulia. Ashramnya dipenuhi oleh murid, baik wanita-wanita berparas cantik pun pemuda tampan. Demikian juga tidak sedikit janda para perwira yang gugur di medan perang, dikarenakan rasa bhakti kepada mendiang suami-suaminya berniat mengasah bathin mempelajari ilmu agama.
Si pandita palsu ini kerap bertandang kepondokan mereka dengan berlagak mengajarkan dharma. Tak dinyana, sang pandita usai mengajar kerap meminta imbalan bercinta sampai mengajak mereka bersanggama.
Āpan rakwa haneki paṇḍita mahādușṭātisādhun katon, munggwing maṇḍala śișya sangghya wĕk I sők strī stryārjja makweh wiku, len tang stri rabi ning prawīra masurud sangskāra bhaktīng sĕnĕng, tan luptān pinaranya lișya mawarah dharmmātĕmah sanggama.
Satir Mpu Tantular di atas merupakan satir yang disisipkan di dalam kisah Sutasoma. Bukanlah sindiran kosong yang tidak mungkin muncul jika tidak terjadi di kehidupan nyata masyarakat Majapahit, mengingat Mpu Tantular hidup di masa keemasan Majapahit, bahkan beliau merupakan sastrawan istana.
Sayangnya, oknum tokoh agama cabul ternyata melintas zaman, dan memiliki akar sejarah sendiri. Lalu yang kedapatan melanggar susila dihukum dengan melempar tokoh agama ke laut (Walatungĕn bwāngĕn mareng sāgara). Sehingga fenomena semacam ini nampaknya sangat umum di masa itu. Tak hanya itu, Tantu Panggelaran menggambarkan kisah Mpu Palyat yang dianggap tidak senonoh dengan memakan mayat pun dihukum dengan dilempar ke laut.
* Disarikan kembali oleh Putu Wawan