Selama 10 bulan kader Bank Sampah Bestari di masing-masing Banjar telah ngayah mengedukasi warga untuk terus melakukan pemilahan di Sumber, dan mencatat hasil pemilahan kedalam Buku Tabungan.Selama 10 bulan tersebut, warga perlahan mulai mengerti dan mau untuk melakukan pemilihan dari rumah masing - masing sebelum akhirnya membawa sampah yang telah terpilah tersebut ke bank sampah.
Edukasi adalah titik penting keberhasilan dalam pengelolaan sampah berbasis sumber. Sebab membuat perubahan kebiasaan baru memerlukan sebuah kesadaran kolektif masyarakat agar tumbuh rasa perduli, mengerti dan mau melakukan hal baru untuk tujuan bersama.
Oleh sebab itu, kami di Desa Bengkel memulai dari sampah anorganik dengan membentuk kader bank sampah dimasing-masing banjar. Kader yang telah terbentuk terlebih dahulu kami edukasi mengenai jenis-jenis sampah yang dapat didaur ulang dan dapat disetor ke bank sampah. Setelah memiliki pemahaman yang cukup, kader bank sampah kemudian melakukan edukasi setiap bulan ke rumah warga dan mengajak warga untuk melakukan pemilahan sebelum akhirnya di setorkan ke bank sampah.
Setiap upaya yang kami lakukan selalu kami ukur tingkat kesuksesannya. Hal itu kami lakukan untuk mempermudah kami dalam melakukan evaluasi. Sebagai contoh, ketika keaktifan warga dalam menabung menurun, kami membagikan tempat pemilahan kepada warga yang kemudian hal tersebut dapat memancing warga untuk kembali aktif untuk menabung.
Begitu pula ketika serapan sampah yang ditabung dan grafik peningkatan jumlah nasabah kami lihat mulai datar, kader bank sampah langsung melakukan edukasi kerumah warga yang terbukti meningkatkan serapan sampah dan jumlah nasabah yang menabung.

Terbukti bahwa edukasi adalah unjung tombak untuk mengajak masyarakat dalam melakukan pemilahan dari sumber. Semua tidakan harus dilakukan dengan cara terukur, sehingga dapat dengan mudah diketahui apakah cara tersebut efektif atau tidak.