Perempuan Bali adalah perempuan yang tangguh. Selain memiliki peranan dalam mengurus rumah tangga, perempuan Bali juga dikenal memiliki peran dalam kehidupan sosial, budaya dan ekonomi keluarga.
Dalam berkehidupan sosial, perempuan bali dituntut mampu berkomunikasi dan saling membantu disaat warga sekitar memiliki kesusahan maupun hajatan upacara. Situasi sosial dengan penuh kekeluargaan seperti ini telah menjadi bagian kehidupan bermasyarakat wanita di Bali. Tentu saja ada sisi baik dan buruk. Yang diperlukan adalah rasa tenggang rasa, tanggung jawab dan saling mengasihi antar sesama sehingga dampak yang dihasilkan adalah dampak positif.
Sebagai peran penjaga budaya, posisi perempuan Bali sudah tidak diragukan lagi. Meskipun secara pengertian filosofi budaya perempuan Bali pada umumnya mungkin masih kurang, namun perempuan Bali dituntut bisa paling tidak untuk membuat sesajen sederhana seperti misalnya banten nasi, sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas berkah hidup yang telah diberikan berupa makanan.
Peran dalam kehidupan sosial dan budaya ini terkadang harus dilakoni secara bersamaan. Setiap perempuan bali yang belum banyak mengerti tentang bebantenan misalnya, agar dapat belajar banyak dalam kehidupan sosialnya ketika ada upacara di Banjar. Ia akan berkomunikasi dan belajar mengenai bebantenan sehingga perannya dalam menjaga adat dan budaya dapat terus berlanjut dan diwariskan kembali ke anak dan cucu.
Peran menjaga budaya tidak hanya berhenti sampai disana. Perempuan bali juga terkenal sangat tangguh dalam menunjang perekonomian keluarga dengan tetap menjaga warisan melalui budaya pertanian. Sampai saat ini, peran wanita dalam budaya pertanian sangatlah besar. Hampir seluruh pekerjaan, mulai dari menanam hingga panen biasanya lebih banyak dilakukan oleh wanita.
Kita sering mendengar instilah ada sekhe nandur, sekhe mejukut, sekhe manyi dan sekhe napinin dimana sebagian besar sekhe tersebut anggotanya adalah perempuan. Bahkan jika ditelisik lebih jauh dari struktur bahasa, Sekhe Napinin secara kasar dapat berarti perkumpulan perempuan yang sedang melatih konsentrasi.
Mengapa demikian? Sekhe dalam istilah bali berarti perkumpulan yang terikat dalam sebuah kesepakatan bersama. Sedangkan Napinin adalah kata kerja yang berasal dari Tapini.
Tapini (kata benda) adalah sebutan untuk seorang pertapa perempuan, lalu mendapatkan awalan N- dan akhiran -N sehingga kata benda tersebut berubah menjadi kata kerja yaitu Napinin yang berarti proses membersihkan kulit ari / kotoran pada beras dengan cara melempar dan menggoyang goyangkan.
Seperti yang terlihat pada video diatas, pekerjaan tersebut memerlukan fokus dan konsentrasi yang tinggi agar semua kotoran berkumpul ditengah. Dibolak balik dengan cara sedikit dilempar, lalu digoyang-goyangkan agar berkumpul ditengah.
Jika sedemikian besar peran wanita dalam proses budidaya pertanian padi di Bali, apakah berarti Lelaki Bali tidak bekerja? Tidak seperti itu. Lelaki bali biasanya lebih banyak mengambil pekerjaan yang membutuhkan kepemimpinan dan mengarahkan. Misalnya, ia mengambil pekerjaan membajak sawah, mengatur aliran irigasi agar asupan air cukup, mengontrol setiap hari agar gulma dan hama tidak menjalar dan lain sebagainya.