14 Oktober 2023, team dari UNESCO berkunjung ke Subak Bengkel Tabanan untuk melakukan verifikasi tatanan Subak, baik secara budaya, sistem irigasi, keragaman hayati dan teknologi yang saat ini digunakan oleh Subak dalam merawat warisan adiluhung tersebut.
Verifikasi ini dilakukan setelah sebelumnya keberadaan Subak Bengkel dipresentasikan oleh Universitas Muhamadiyah Malang kepada UNESCO di China, dimana proses seleksi membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun untuk menentukan lokasi di Indonesia yang akan dipilih sebagai warisan budaya dunia.
Perjalanan dimulai dari DAM 1 yang berlokasi di Desa Pejaten yang berbatasan dengan Desa Bongan. Dimana pada DAM 1 ini adalah pintu awal pengambilan air dilakukan dari sungai Yeh Panahan menuju ke Subak Bengkel melalui saluran air berupa terowongan. Dilokasi tersebut telah didirikan tempat pemujaan Dewa Wisnu, dimana Subak biasanya melaksanakan upacara khusus yang disebut Mapag Toya sebelum musim tanam dimulai.
Dari DAM 1 kami menuju ke DAM 2 dimana DAM 2 merupakan pintu utama pengaturan air yang berlokasi di perbatasan desa Pejaten dan Nyitdah. Sebelum pintu pengaturan air, agak sedikit ke utara terlihat sudah terpasang trash barier (penghalang sampah) yang dipasang oleh SungaiWatch untuk membantu berkurangnya sampah plastik hanyut ke hilir. Hal ini sangat membantu kami dalam penangaman sampah pada aliran sungai.
Dari DAM 2 kami kemudian berjalan kaki menelusuri sungai sepanjang 1 Km menuju penggilingan. Dalam perjalanan, kami bercerita banyak tentang keragaman hayati yang ada disana serta bagaimana sistem air dialirkan ke sawah masing-masing petani. Kami juga menyempatkan untuk memetik beberapa buah kelapa muda untuk kami minum sebagai pelepas dahaga dalam perjalanan.
Dalam perjalanan, kami juga menunjukan bagaimana aliran air kemudian dipecah menjadi dua bagian utama yang mengairi seluruh wilayah Subak Bengkel.
Sesampainya di penggilingan, team UNESCO melihat proses bagaimana padi hasil panen diproses hingga menjadi beras dengan menggunakan teknologi untuk efisiensi. Salah satu teknologi yang menjadi daya tarik adalah teknologi pemanasan bulir padi yang digunakan.
Alih-alih menggunakan matahari, untuk efisiensi dan mempercepat proses, pemanasan dilakukan dengan sekam bakar. Sehingga sekali pemanasan dapat dilakukan dengan kapasitas lebih 6-10 ton dengan waktu kurang lebih 3-4 jam pemanasan.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pura Bedugul. Kami menjelaskan secara budaya fungsi dari Pura Bedugul tersebut yang tiada lain adalah sebagai pemujaan kepada Dewi Shri, Shakti Dewa Wisnu sebagai bentuk syukur karena beliau telah memberikan hasil panen yang baik. Jika pada DAM 1 upacara dilakukan sebelum musim tanam, pada Pura Bedugul, upacara dilakukan sebelum musim panen, yang sering disebut sebagai Ngusaba.
Berdekatan dengan lokasi Pura, kami mengajak team UNESCO untuk melihat lokasi demplot padi organik sebagai program ketahanan pangan yang dijalankan desa. Ada dua lokasi demplot yang berdekatan, namun satu lokasi telah dipanen, dimana hasil panen yang dilaporkan cukup baik yaitu 87kg / are.
Dilokasi tersebut team UNESCO melihat bagaimana petani melakukan filtrasi air sebelum masuk ke sawah menggunakan tanaman air enceng gondok agar air tetap bersih dan bebas dari racun. Sedangkan untuk pupuk yang digunakan, menggunakan pupuk hasil olah sampah rumah tangga di TPS3R Bestari Desa Bengkel.
Kami lalu mengajak team UNESCO ke TPS3R. Team sangat kaget melihat kondisi TPS3R yang rapi dan jauh dari kesan kumuh serta tidak berbau. Kami menjelaskan kepada team bahwa kami menerapkan standard yang cukup tinggi dalam memproses sampah yang masuk. Utamanya untuk sampah dapur (food waste), harus selesai diproses hari itu juga. Jika tidak, maka akan menyebabkan bau. Berbekal ilmu yang diberikan oleh Prof. Indah Prihatini dari UMM, TPS3R terus menyempurnakan hasil pupuk organik padat yang ada, termasuk pengembangan produk lain seperti Insektisida dan Pestisida alami.
Karena hari sudah siang, kami kemudian beristirahat di Balai Subak sambil menerima kehadiran Bapak Sekda Tabanan beserta jajaran, sekaligus audiensi dan pemberitahuan team UNESCO untuk melakukan proses verifikasi.
Perjalanan terakhir kami akhiri di pantai dimana disana merupakan perjalanan akhir aliran air sebelum akhirnya bertemu dengan air di lautan. Kami berkunjung pada dua titik di Wilayah Desa Pangkung Tibah, yaitu di Tampih Kawan yang merupakan pembuangan akhir di Sungai Yeh Empas yang telah bertemu dengan Sungai Yeh Panahan dihulu dan satu titik lagi di sebelah timur (dekat dengan Pura Segara) yang masih murni merupakan aliran Sungai Yeh Panahan.